Friday, 27 May 2016

Tanaman Makanan Favorite Keluarga Pedesaan


Tahun 90an, ketika saya masih kecil yang hidup di suasana pedesaaan yang tenang, nyaman, damai, penuh dengan kesegaran dan kehijauan. Kehidupan kecil pedesaan yang penuh dengan keceriaan. Meskipun hidup dari keluarga yang sangat sederhana dan penuh dengan kekurangan, namun suasana seperti itu masih kurindukan sampai sekarang yang hidup di perkotaan. Suasana pedesaan masa kecil yang membuat keinginan ingin kembali seperti masa-masa yang dulu.

Ada beberapa makanan yang berasal dari tanam-tanaman yang begitu kurindukan sampai sekarang. Yang tidak bisa dan sulit ditemui di jaman sekarang. Makanan yang sederhana namun begitu nikmat dikonsumsi bagi orang-orang yang penuh dengan kesederhanaan dan kekurangan. Ada keinginan tersendiri untuk membudidaya tanaman-tanaman tersebut yang sekarang sudah mulai sulit ditemukan bahkan langka kita jumpai sekarang ini.

1.  SUWEG
Tanaman ini dalam pedesaan biasa disebut dengan makanan ular, namun itu hanya sebutan saja, karena memang batang tanaman ini berbentuk ukiran menyerupai ular. Tanaman ini nikmat untuk di konsumsi. Ada rasa tersendiri dari kekhasan masakan tanaman ini. Kalo menemukan silakan dicoba ya..



2.  KROKOT
Tanaman ini masih berkerabat dengan rerumputan. Krokot ini mudah hidup di berbagai tanah, namun keadaan tanah yang semakin gersang menyebabkan tanaman ini sulit ditemukan. Kalo ada yang punya kabari ya..


3.  GADUNG
Gadung adalah tanaman yang berkerabat dengan umbi-umbian. Tanamannya menjalar seperti tanaman sirih. Daun dan batangnya pun hampir sama dengan tanamn sirih. Buah Gadungnya terpendam di dalam tanah. Namun mempunyai kelezatan tersendiri dari gadung ini. Silahkan dicari ya dan dicoba.


4.  CEKRA-CEKRI
Tanaman ini sudah sangat langka kita jumpai, padahal jaman dulu di pedesaan banyak sekali tanaman ini. Tanaman ini sangat nikmat kalo dibuat gudangan atau urab. Wah begitu nikmat sekali dibandingkan salad. Hehe..


5.  GARUT
Garut atau biasa disebut Irut atau ada yang parah lagi menyebutnya dengan tanaman Perut. Haha.. Tanaman ini sangat sulit sekali dan bahkan sudah tidak ada ;agi di jaman sekarang. Padahal itu makanan favoritku waktu kecil. Tanaman ini lezat dan manis ketika direbus dan dimakan. Kalo ada yang punya bagi-bagi ya.


6.  GEMBILI
Gembili ini hampir sama kayak tanaman Gadung, Namun sedikit lebih kecil dan kulitnya mulus. Tanaman ini gurih apabila direbus dan berwarna putih segar daging buahnya. Tanaman ini menjalar ke atas dan daun dan batangnya mirip seperti tanaman gadung dan sirih. Dan sekarang sangat sulit untuk mencari tanaman ini.



7.  GANYONG
Tanaman ganyong hampir mirip seperti tanaman jahe. Namun ganyong ini bisa dimakan dengan cara direbus sedangkan jahe tidak bisa dimakan. Rasa dari tanaman ganyong ini sangat guring dan pulen. Namun tanaman inipun sama seperti tanaman sebelumnya yang sangat sulit untuk dicari di jaman sekarang. Bagi-bagi ya kalo ada yang punya.



Kita perlu prihatin tentang kelangkaan tanaman-tanaman tersebut. Sangat sulit dan bahkan hilang di habitatnya. Mari kita jaga tanaman-tanaman langka lainnya yang masih bertahan sampai sekarang untuk kita budidayakan. Semoga bisa menambah khasanah keanekaragaman kekayaan alam kita. 

Thursday, 26 May 2016

Pentingnya Seorang Ibu Belajar Psikologi


Peran Ibu dalam keluarga sangat penting dan dominan. Dibandingkan dengan posisi Ayah, peran Ibu lebih utama daripada peran seorang Ayah. Mulai sebagai kepala rumah tangga, mengelola rumah tangga, sampai dengan peran penting dalam mendidik anak. Walaupun semua peran dalam keluarga merupakan tanggungjawab bersama antara Ayah dan Ibu, namun peran Ibu lebih dominan dalam hal pengelolaan keluarga. Predikat peran Ibu yang sangat penting ini diharapkan seorang Ibu selalu dinamis dalam mengembangkan diri untuk meningkatkan dan menambah ilmu dan wawasan. Baik dalam pengembangan ilmu sosial humaniora maupun dalam ilmu-ilmu agama yang diyakininya.

Ibu yang sukses dan berhasil adalah seorang Ibu yang mewujudkan anak-anak menjadi insan kamil. Yaitu manusia yang bisa menjadi suri tauladan yang baik, yang memberikan kebahagiaan bagi sesama dan lingkungannya, serta selalu mengingat dan mengharap keridhoan Allah SWT. Memang sangat jarang sekali untuk bisa mewujudkan anak-anak kita untuk menjadi insan yang seperti itu, namun setidaknya usaha untuk menuju kesana sudah dilakukan secara sungguh-sungguh dan istiqomah.

Peran Ibu yang sangat besar dan hebat ini, dibutuhkan dukungan dalam mewujudkan peranan tersebut. Diantaranya adalah kebutuhan dalam mempelajari dan menguasai ilmu psikologi. Penguasaan psikologi oleh seorang Ibu sangat dianjurkan untuk mendukung peranan Ibu dalam mengelola keluarga dan mendidik anak-anaknya. Karena dalam penguasaan ilmu-ilmu psikologi inilah seorang Ibu dapat memanajemen dengan baik kelebihan emosional dan spiritual yang dimilikinya.

Psikologi adalah sebuah cabang ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan tingkah laku manusia terutama dalam hukum-hukum kejiwaan manusia. Dengan psikologi inilah kita dapat mengamati, merenungi kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia. Dengan penguasaan psikologi oleh seorang Ibu niscaya seorang Ibu akan menguasai psikodinamika keluarganya yang mencakup dinamika tingkah laku, motivasi, perasaan, emosi, dan atensi anggota keluarga dalam hubungannya baik secara personal maupun interpersonal yang meliputi perwujudan keluarga yang sakinah, manajemen rumah tangga, komonukasi dalam keluarga, pengembangan potensi dalam keluarga, strategi mengatasi masalah dan konflik keluarga, kesetaraan gender, dan internalisasi nilai-nilai agama dalam keluarga.

Begitu hebat dan besar bukan? Peranan yang sangat penting dalam keluarga terutama dalam pendampingan dan pendidikan untuk pertumbuhan anak-anaknya. Dukunglah sepenuhnya untuk seorang Ibu dalam belajar psikologi ini. Berilah kemudahan dan fasilitas yang ada dalam meningkatkan pengembangan dirinya dalam penguasaan psikologi. Melalui media-media informasi, buku-buku, maupun dalam kegiatan komunitas-komunitas yang baik. Tidak harus menjadi kaya dulu seorang Ibu untuk belajar, tidak harus menunggu semua kebutuhan terpenuhi untuk selalu memulai belajar, dan tidak perlu menunggu diminta untuk memulai belajar. Karena seorang Ibu yang berusaha meningkatkan diri akan memberikan kemuliaan yang dipancarkan kepada keluarga dan lingkungannya.

Ibu adalah Ummu Ajyal (Pencetak Generasi), karena ditangannyalah ditentukan generasi yang baik atau yang buruk dan pemimpin yang amanah atau khianat. Semoga bermanfaat.
   

Wednesday, 25 May 2016

Janganlah Pingsan Menjadi Orang Tua


Melihat berita di media mengenai pelecehan seksual yang kerap terjadi kepada wanita dan anak-anak, semakin miris dan memilukan. Perbuatan pelecehan yang sedikit pelecehan sampai pada tingkat pemerkosaan dengan akhir pembunuhan. Sebagai orang tua yang mempunyai anak-anak yang masih kecil, kejadian ini membuat hati orang tua semakin was-was dan penuh dengan kekhawatiran. Kekhawatiran bagi orang tua ini sangatlah wajar mengingat angka kekerasan dan pelecehan terhadap anak dan wanita semakin meningkat dan menjadi-jadi.

Kasus pelecehan dan pemerkosaan kepada wanita dan anak-anak semakin meningkat seiring dengan perkembangan jaman dan gaya hidup yang modernitas. Besarnya pengaruh-pengaruh gaya hidup yang modern akan sangat menyumbangkan besarnya degradasi moral manusia. Manusia yang belum mapan dalam karakter dan psikis akan menjadi santapan yang lezat bagi gaya hidup modernitas perkembangan jaman.

Begitu mudahnya sekarang anak-anak menikmati internet dan media televisi. Yang notabene nya disisi positif dapat memberikan ilmu, wawasan, dan pengalaman yang dapat meningkatkan intelektualitas dan karakter, namun disisi lain juga akan memberikan efek negatif yang besar bagi anak apabila tidak bisa menggunakannya secara selektif. Banyak pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dari internet dan televisi yang mungkin tidak bisa didapatkan secara manual. Seperti pelajaran sekolah, pengajian, dan sebagainya. Dan juga sangat banyaknya tema-tema yang justru membunuh dan menurunkan intelektualitas, norma, dan kepribadian daripada penggunanya itu sendiri. Seperti games, pornografi, kekerasan, sinetron, dan sebagainya.

Hal seperti ini apabila dibiarkan menjadi konsumsi anak, sangat beresiko sekali jika tidak diimbangi dengan pendampingan dan selektif. Kebebasan yang diberikan kepada anak secara naluri akan mendorong keinginan anak untuk menjelajah hal-hal yang belum mereka ketahui sesuai dengan umurnya. Pembiaran anak-anak dalam mongkonsumsi hal itu tanpa selektif, secara evolusi akan memicu perkembangan otak anak dengan obsesi-obsesi dan khayalan anak yang didapatkan melalui media tersebut. Terlebih media-media yang memberikan tema-tema negatif seperti games dan pornografi. Mereka akan menjadikan candu bagi anak tersebut, yang bisa memicu perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh norma kepada lingkungannya terutama teman yang lemah dan dikenalnya.

Dengan fenomena-fenomena seperti ini yang berdampak sangat besar bagi perkembangan karakter dan perilaku anak, sebagai orang tua janganlah pingsan atau mati suri melihat hal demikian terhadap anak dan lingkungan. Berikan tindakan preventif dan antisipatif untuk pendampingan sang anak dalam perkembangannya. Bekali anak dengan memperbanyak dan memperdalam ilmu agama, berikanlah perhatian terhadap pergaulan dan lingkungannya, ajarkanlah kemandirian dan bertanggungjawan terhadap segala sesuatu yang dilakukannya, kurangilah penggunaan gadget dan menonton televisi, berikanlah kesibukan diwaktu senggangnya dengan aktifitas-aktifitas ketrampilan yang menarik, dan selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan bimbingan dan perlindungan kepada keluarga dan anak-anak.


Keberhasilan seorang anak adalah bentuk keberhasilan dari orang tuanya. Karena mewujudkan anak menjadi manusia yang baik adalah harapan kita semua. Semoga bermanfaat.

Tuesday, 24 May 2016

Berikanlah Kebiasaan-Kebiasaan Yang Baik Untuk Membentuk Karakter Anak


Anak bagaikan cermin. Ya .. bagikan cermin interpretasi dari kedua orang tuanya. Serupa namun tidak sama. Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan kita sebagai orang tuanya, akan mudah sekali ditirukan oleh anak-anak kita. Baik itu kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk dari orang tuanya. Orang tua yang tidak pernah menggosok gigi pada waktu mau tidur, akan dilakukan hal yang sama oleh anaknya yang tidak akan pernah menggosok giginya pada waktu mau tidur. Orang tua yang hanya menyuruh saja anaknya untuk mengaji habis shalat magrib, maka anak tersebut tidak akan mengaji ketika orang tuanya lupa menyuruh mengaji.

Anak kecil yang dalam pertumbuhannya dapat diibaratkan seperti sebuah buku yang masih kosong. Dimana buku kosong ini akan ditulis oleh sang anak ketika berinteraksi dengan pikiran dan instingnya baik di lingkungan keluarganya sendiri maupun di lingkungan sekitar keluarganya. Respon sang anak terhadap aksi di keluarga dan lingkungan sekitar akan memberikan reaksi otak sang anak dalam membentuk kepribadian diri sang anak. Keluarga dan lingkungan yang positif tentunya memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan kepribadian anak yang baik, begitu pula sebaliknya.

Dalam sebuah penelitian telah dikemukakan bahwa, ‘Bila IQ seorang ibu 90, maka IQ anaknya akan disekitar 90 pula’. Dalam studi herediter dijelaskan bahwa secara biologis proses pemindahan sifat-sifat dasar atau karakteristik orang tua pada keturunannya adalah sebesar 80%, sedangkan 20% ditentukan karena lingkungannya. Hal ini dapat diartikan bahwa pembentuk kepribadian seorang anak akan sangat ditentukan oleh kualitas dari orang tuanya. Sedangkan sisanya adalah pengaruh dari lingkungannya baik keluarga, sekolah, masyarakat, dsb.

Penelitian diatas dapat memberikan gambaran kepada orang tua, secara dominan kepribadian seorang anak didominasi oleh orang tuanya. Baik dalam segi intelektualitas maupun karakternya. Intelektual dasar seorang anak adalah bersifat Ilahiah, artinya komposisi kualitas hardware intelektualitas seorang anak adalah anugerah dari Allah SWT yang berbeda-beda terhadap anak lainnya. Namun penguatan intelektualitas anak bisa dikembangkan dengan berbagai macam usaha seperti bersekolah.

Berbeda juga dengan karakter seorang anak, yang tidak bisa disamakan dengan intelektualitas anak. Karakter seorang anak akan terbentuk dengan sendirinya sesuai dengan apa yang telah dialami oleh anak tersebut. Baik kejadian positif maupun negatif. Terutama kejadian di lingkungan keluarganya. Mengapa demikian? Karena orang tua (Ibu dan Bapak) adalah seseorang yang menjadi idola bagi sang anak. Maka secara insting anak respect terhadap segala tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Hal ini diterima secara terus menerus oleh sang anak sampai anak tersebut dewasa.

Dengan berdasarkan psikologi perilaku anak tersebut. Kita sebagai orang tua hendaknya memberikan sebuah kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan dalam bertutur kata, dalam beretika, dalam pergaulan, dalam beragama, dalam pola berpikir, dan sebagainya. Anak tidak perlu diperintahpun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang tuanya. Adalah tugas orang tua yang harus mengembangkan kepribadian diri yang berkualitas baik untuk menjadi teladan bagi anak yang menjadi kontribusi besar terhadap karakter anak.

Bagi kita sebagai orang tua, tetaplah terus belajar untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Belajar terhadap sesama maupun dalam sebuah komunitas yang baik. Memperdalam agama dan memperbanyak ilmu, budaya, wawasan, dan pengalaman yang baik dan bermanfaat. Buanglah kebiasaan-kebiasaan buruk di keluarga dan tampilkanlah kebiasaan-kebiasaan yang baik di hadapan anak. Insyaallah anak-anak kita akan menjadi anak yang mempunyai intelektualitas dan kepribadian yang baik.

Buah yang jatuh tidak akan pernah jauh dari pohonnya. (kecuali ada yang mencuri buahnya. Hehe..) Semoga bermanfaat.

Friday, 20 May 2016

Pelangi di Bulan Ramadhan


Ramadhan sudah dekat tinggal menhitung hari saja. Bulan yang suci penuh berkah dan berlimpah pahala. Dimana sebuah kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dari Allah SWT. Sangatlah merugi ketika bulan yang penuh pahala ini kita sia-siakan. Dan sangatlah merugi ketika sebagian orang berlomba-lomba untuk berebut melakukan kebaikan, sedangkan kita berleha-leha dengan rutinitas standar yang hanya terpusat pada tujuan keduniawian saja.

Ramadhan adalah bulan untuk menguji eksisitas kita sebagai manusia, menguji keimanan kita sebagai muslim/muslimah. Karena dibulan Ramadhan banyak hal yang harus kita kendalikan. Yang utama adalah mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu dapat diartikan sebagai kecenderungan jiwa kepada yang diinginkan. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang. Apakah kita akan menjadikan kehidupan diri ini kepada kerusakan, tidak berpotensi atau sebaliknya? Itu adalah sebuah pilihan yang harus ditentukan.

Menjelang Ramadhan saatny berbenah, bermuhasabah atas kehidupan diri. Menyiapkan start aktivitas kehidupan yang lebih bermanfaat dan bermartabat mulia. Tidak perlu muluk muluk terlalu tinggi menentukan target amalan kebaikan. Sederhana, terjangkau dengan kemampuan kita dan yang lebih utama adalah istiqomah, melanggengkan diri. Karena Allah menyukai amalan hal hal yang kecil tetapi langgeng. Bagaimana target anda di bulan Ramadhan tahun ini?

Semoga Ramadhan tahun ini dapat kita jalankan dengan sepenuh hati, tanpa ada rasa terbebani meski harus menahan diri dari segala kepentingan dan rayuan rayuan yang bertujuan duniawi. Tentukan amalan terbaik targetan diri sebagai bentuk penghambaan pada sang illahi yang telah melimpahkan beribu-ribu nikmat yang kadang terlupa untuk kita syukuri. Marhaban yaa Ramadhan…….