Thursday, 30 June 2016

Jadilah Pohon Yang Berbuah Manis


Kita sebagai manusia yang hidup diibaratkan seperti pepohonan yang tumbuh di alam.

Pohon yang tumbuh diawali dengan tumbuh dan bergeraknya akar yang kuat. Dengan tersedianya nutrisi dan gizi yang diberikan oleh tanah, maka akar tersebut akan terus sedikit demi sedikit akan tumbuh menjadi batang dan daun kecil. Begitulah dengan kita yang tumbuh sejak kecil dengan pondasi fisik dan mental yang kuat akan terus tumbuh berkembang menjadi anak-anak.

Pohon yang kecil akan terus tumbuh semakin besar dengan batang dan tangkai yang kuat, dau-daun yang segar dan kehijauan. Memberikan kesegaran dan kesejukan kepada semua makhluk yang disekitarnya. Kita terus tumbuh dari masa anak-anak, tumbuh menjadi masa remaja, terus tumbuh menjadi masa muda yang segar bugar dengan fisik yang sempurna. Dengan semangat yang membara untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Berjuang melawan halangan dan rintangan untuk menggapai satu tujuan cita-cita.

Pohon muda terus tumbuh menjadi besar, memberikan batang dan kuncup bunga yang indah. Yang memberikan buah yang muda, lebat, dan manis. Yang ditunggu oleh makhluk sekitarnya untuk kebutuhan mereka. Begitu juga kita yang tumbuh menjadi dewasa dan beranjak sedikit demi sedikit menjadi tua. Sebagai manusia yang sudah tua hendaknya memberikan kebaikan kepada sekitarnya dengan pengayoman dan kesejahteraan baik lahir maupun bathin. Berguna dan bermanfaat bagi sesama yang membutuhkan.

Pohon yang berbuah manis dan lebat, banyak dilempari batu oleh orang lain.



Monday, 27 June 2016

Rumah Belajar: Karena Hidup Lebih Indah dan Bermakna


Rumah ibarat istana. Ya sebuah istana bagi keluarga dalam membina kehidupan di dunia ini bahkan dengan harapan bisa bersama-sama sampai ke negeri akhirat nanti. Bahkan juga ada yang populer mengatakan bahwa ‘rumahku adalah istanaku’, ‘rumahku adalah surgaku’. Betapa tingginya kemuliaan dan kemanfaatan sebuah rumah bagi sebuah keluarga. Karena memang sebuah rumah adalah kebutuhan primer yang utama dibandingkan dengan kebutuhan primer lainnya bagi setiap manusia.

Memiliki rumah yang indah, bersih, nyaman, sederhana, dan bersahaja merupakan dambaan setiap orang dan keluarga. Berawal dari sebuah keluarga lah semua pendidikan dasar dimulai dalam mewujudkan manusia-manusia yang baik maupun tidak baik. Di sebuah rumahlah kita semua tumbuh berkembang. Berawal dari diri yang masih kecil sampai pada diri kita yang semakin tua. Ya.. rumah adalah bahtera kita untuk hidup.

Jadikanlah rumah-rumah kita untuk menjadi rumah-rumah pembelajaran. Rumah yang memberikan kemanfaatan bagi kehidupan dan perkembangan anggota keluarga kita. Menjadikan rumah yang selalu senantiasa di rindukan oleh seluruh anggota keluarganya. Menjadikan rumah sebagai awal perubahan peradabaan bangsa dan negara yang lebih berkualitas. Penuhilah rumah-rumah kita dengan kebaikan dan keberkahan. Datangkanlah kualitas keberkahan itu dari segala penjuru melalui doa dan tingkah laku kita.

Isilah rumah kita dengan keanekaragaman warna kehidupan dan kehalalan dalam kesederhanaan. Hiasilah rumah kita dengan hiasan yang membahagiakan dunia dan di akhirat. Buanglah segala keegoan, kesombongan, kemunafikan, keserakahan, kebejatan dalam rumah kita. Karena hal-hal negatif itulah yang akan meracuni semua anggota keluarga kita dalam keterpurukan.

Sayangilah dan cintailah seluruh anggota keluarga kita, dengan cinta dan kasih sayang yang murnilah, karunia generasi penerus yang berkualitas dewa akan datang dengan sendirinya kepada kita dari keridhaan-Nya. Bimbinglah mereka semua menuju kemandirian dan kedewasaan.

Hidup ini begitu indah dan beraneka warna. Kebahagiaan dan kesedihan, kemanisan dan kepahitan, kecintaan dan kebencian, kejujuran dan kemunafikan, kasih sayang dan kedurhakaan. Pilihlah jalan yang lurus dan sesuai dengan keridhoaan-Nya. Karena kewajiban kita untuk menjalani manis pahitnya kehidupan di dunia ini.

Jadikanlah rumah kita sebagai rumah belajar, karena hidup lebih indah dan berwarna. Untuk menyongsong hari esok yang lebih gemilang. Semoga bermanfaat.

Thursday, 23 June 2016

Botol yang Sama dengan Isi yang Berbeda, Harga pun juga Berbeda


Sebotol minuman yang berisi dengan air putih hanya dihargai sekitar 3 ribuan. Namun berbeda jika botol tersebut, isinya dibuang dan diganti dengan madu tentunya harganya mungkin sekitar 20 ribuan. Begitu juga apabila isinya diganti lagi dengan sirup, tentu harganya juga berbeda pula. Walaupun dengan ukuran botol yang sama dan model yang sama, dengan isi yang berbeda-beda, harganya berbeda pula di hadapan pembelinya. Pembeli lebih memprioritaskan isinya daripada wadah botolnya.

Analogi di atas memberikan pengetahuan kepada kita, bahwa kita sebagai manusia yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya, mempunyai wadah dengan bentuk dan model yang sama. Namun satu dengan yang lainnya akan memberikan harga yang berbeda-beda di hadapan Tuhan. Selayaknya analogi botol di atas, Tuhan pun akan menghargai kita dari isinya bukan hanya dari bentuk fisik dan modelnya. Itulah sebuah kebijaksanaan Tuhan yang Maha Adil.

Seseorang yang memiliki ilmu dan akhlak yang baik tentunya akan mempunyai kualitas harga yang tinggi dibanding seseorang yang sedikit ilmunya dan mempunyai akhlak yang kurang baik. Demikian juga seseorang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang kuat akan berbeda kualitas harganya daripada seseorang yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang lemah di hadapan Allah SWT.

Dalam surat Al-Hujurat:49, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang paling mulia diantara manusia lainnya baik laki-laki maupun perempuan adalah orang yang paling bertaqwa. Bertaqwa artinya manusia yang beriman kepada Allah SWT serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi dari segala larangan-Nya. Orang yang beriman dan bertaqwa selalu mencerminkan akhlak dan kebajikan yang mulia bagi sesama dan alam sekitarnya. Akhlak yang selalu mengikuti dan meneladani akhlak yang mulia dari Rasulallah SAW di segala bidang di kehidupan sehari-hari dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.

”Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ketimur dan kebarat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allâh, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalnan (musafir), peminta-minta dan utuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji ketika berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa perang. Maka mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar bertaqwa”(QS al-Baqarah [2]: 177).

Itulah yang membedakan nilai seseorang dengan manusia lainnya di hadapan Tuhan semesta alam. Bukan dinilai dari postur tubuh dan model pakaian serta materi yang dipunyainya. Semoga bermanfaat.

Wednesday, 22 June 2016

Saya ingin bersedekah, Sekiranya Saya Bisa Kembali Hidup di Dunia


Ketika manusia telah menemui ajalnya atau umurnya di dunia, maka segalanya akan terputus dari semua apa yang dia miliki. Materi yang sangat banyak, keluarga yang sangat dicintainya, saudara dan teman-temannya yang baik kepadanya, bahkan tahta atau jabatannya yang diagung-agungkan. Semuanya tidak bisa ikut bersama menuju ke alam berikutnya yaitu alam barzah. Mereka semua hanya bisa mengantarkan si mayit sampai pada liang lahat di makamnya. Setelah penguburannya selesai, mereka pun akan meninggalkannya dalam kesendirian.

Di dalam Islam, Allah SWT maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Tidak akan membiarkan semua hamba-Nya yang telah menjalani kehidupan dengan ikhlas di dunia dan di akhirat nanti dalam kesendirian. Di anugerahkan kepada kita, ketika kita meninggal, maka kita akan di dampingi oleh 3 hal yang senantiasa mendampingi kita. Tiga perkara tersebut adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang mendoakannya.

Allah berfirman dalam QS Al-Munafiqun 10, “Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah...".

Dalam quran tersebut, dijelaskan bahwa ada orang yang meninggal yang memohon untuk dihidupkan kembali ke dunia walaupun sedikit waktu, maka ia ingin mengerjakan sedekah jariyah. Di sisi lain, kenapa orang yang meninggal tersebut tidak meminta hal-hal yang lainnya, seperti ingin melakukan ibadah umroh, berhaji, ataupun mengerjakan sholat atau puasa dan zakat. Namun hanya ingin bersedekah saja yang dimintanya. Dijelaskan oleh para ulama, bahwa mengapa orang yang telah meninggal tersebut ingin bersedekah karena dia telah melihat betapa besarnya pahala dan kebaikannya daripada sedekah jariyah. Itulah sebabnya mengapa si mayit ingin sekali diberi kesempatan lagi walaupun sedikit waktu untuk hidup ke dunia lagi yang hanya ingin melakukan amal sedekah jariyah.

Kita sebagai seorang mukmin yang ingin mendapatkan bahagia di dunia dan di akhirat hendaklah selalu memperbanyak sedekah jariyah. Walaupun besar dan sedikit, walaupun dalam keadaan lapang dan sempit, walapaun dalam keadaan bahagian dan kesedihan. Semuanya diperuntukkan untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT. Dengan memperbanyak sedekah jariyah, insyaallah kita selalu berada di dalam naungan sedekah yang telah kita lakukan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

Bersedekahlah untuk kita dan untuk atas nama orang-orang yang sudah meninggal diantara kita, keluarga kita, saudara-saudara kita. Karena sesungguhnya mereka semua yang telah meninggal sangat berharap sekali untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan sedekah jariyah dan beramal sholeh. Kita sebagai orang yang menyayangi mereka maka wujudkanlah harapan-harapan mereka agar mereka selalu mendapatkan kebahagiaan di sana.

Amalan ini sesuai dengan hadis nabi Muhammad SAW, dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim)

Kita sebagai makhluk yang dianugerahi ilmu, akan dan pikiran, mari kita ajarkanlah kepada anak-anak kita, keluarga kita, orang-orang yang kita cintai dan sayangi untuk gemar bersedekah kepada sesama yang membutuhkan dan kepada alam sekitarnya. Bersedekah adalah wujud nyata kepedulian kita kepada sesama yang membutuhkan dan juga bagi alam sekitarnya. Insyaallah dengan sedekah akan membuat mereka semua menjadi ikut berbahagia. 

Muslim yang gemar bersedekah jariyah, akan memuliakan dirinya sendiri, keluarga, dan alam sekitarnya. Itulah cerminan manusia seutuhnya yang selalu bersyukur terhadap segala yang dimilikinya. 
Wallahu a'lam bishowab.

Tuesday, 21 June 2016

Al-Quran: Bersyukur Aku Bisa Bersamamu


Bahasa indah dari Rabb semesta alam
Menyajikan ramuan cinta yang sesungguhnya
Memaknai indahnya kehidupan
Agar hidup semakin hidup dan berarti

Bahasa indah penyejuk jiwa
Terpesonakan rangkaian indah kalimah-Nya
Terjanjikan pahala dan barokahnya
Teristiqomahkan pembaca yang terpilih oleh-Nya

Adakah kerinduan kita
Untuk selalu merajut hati dengan indahnya kalam Rabb semesta alam
Kesucian yang harus selalu ada dijiwa
Agar waktu tak sia-sia tanpa Quran di samping

Sayup-sayup surat terdengar
Menggugah amanat-amanat yang terpendam
Menjelaskan kisah
Dan menceritakan sejarah yang benar

Ia terjaga karena Allah menjaganya
Pedoman hidup
Tatanan hidup
Pola hidup
Yang menghidupkan daripada yang redup

Qur'anku
Bersyukur aku bisa bersamamu
Semoga Allah istiqomahkan aku
Untuk bisa membaca, menghafal, mentadaburi dan mengamalkanmu

Qur'anku....
Jangan jauhkan aku darimu
Dekap erat jiwaku
Agar Allah bersamaku dan bersama semuanya selalu
Sekali lagi istiqomahkan aku...

"Biarkan keistiqomahan kita menjadi saksi cinta kita pada Rabb semesta melalui lantunan kalam ilahi yang membumi sejuz sehari tiap hari"

Ramadhan: Tarbiyah Jasmaniyah, Tarbiyah Fikriyah, dan Tarbiyah Qolbiyah


Marhaban ya ramadhan. Bulan yang suci penuh dengan pengampunan, bulan penuh kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman. Dan bulan penuh pendidikan bagi diri dan keluarga muslim. Pendidikan dalam segala hal dan kepribadian umat muslim. Di samping sebagai bentuk ibadah dan rukun iman ketiga, bulan ramadhan memberikan pembelajaran bagi orang-orang yang melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Karena bulan ramadhan adalah bulan tarbiyah.

Ramadhan sebagai tarbiyah jasmaniyah. Ya.. bulan ramadhan adalah bulan pendidikan untuk jasmani kita, fisik dan badan kita. Bagaimana orang yang berpuasa diberikan pendidikan dalam kedisplinan waktu dari jasmani ini. Ada waktu saatnya sahur dan makan, ada juga waktu yang saatnya untuk berbuka puasa. Hal ini harus dilakukan dengan disiplin bagi yang berpuasa. Ada saatnya melaksanakan shalat tarawih. Semua kegiatan dalam ramadhan dilaksanakan dengan tepat waktu dan penuh dengan kedisiplinan.

Begitu juga dengan keadaan badan jasmani kita yang obesitas atau kelebihan berat badan. Dengan beristirahat sebentar tubuh ini dari makan dan minum justru akan memberikan kekuatan dan kesehatan bagi tubuh ini. Badan yang terlalu banyak lemak lebih riskan terhadap berbagai penyakit yang dengan mudah menyerang tubuh. Dengan berpuasa secara teratur, badan ini dilatih untuk mengurangi lemak dan menghilangkan racun-racun tubuh (Detoks) secara alami. Sehingga imunitas tubuh semakin meningkat dan sehat. Bukankah puasa itu sangat menyehatkan?

Ramadhan sebagai tarbiyah fikriyah. Bagaimana akal dan pikiran dilatih secara khusus dengan datangnya bulan ramadhan. Bagi orang yang melaksanakan puasa, diberikan pendidikan bagaimana dengan mengendalikan pikiran-pikiran kita. Membuang pikiran-pikiran negatif dan meningkatkan pikiran-pikiran yang positif. Betapa indahnya puasa ketika kita dilatih untuk membuang pikiran-pikiran kita yang jelek. Membuang kesombongan, keiridengkian, dan ketakaburan diri kita. Menggulung jadi satu pikiran-pikiran yang negatif dan membuangnya jauh-jauh dari kita. Karena hal tersebut adalah salah satu keutamaan dan diterimanya puasa kita kepada sang Pencipta. Dengan demikian secara perlahan dan pasti, kita yang berpuasa akan dilatih untuk mempunyai pikiran yang positif dan baik.

Ramadhan adalah tarbiyah qolbiyah. Ketika dalam melaksanakan puasa ramadhan, dalam tarbiyah jasmaniyah dan tarbiyah fikriyah telah kita lalui, secara simultan kita akan diberikan tarbiyah qolbiyah kita. Bagaimana puasa memberikan pendidikan hati kita. Melatih qalbu kita untuk lebih meningkatkan pengendalian diri dari nafsu-nafsu kita. Menekan ke titik terendah dari nafsu-nafsu negatif kita, dan mendorong setinggi-tingginya nafsu-nafsu yang baik dari diri kita. Karena memang nafsu dalam diri manusia tidak bisa dihilangkan namun hanya bisa kita kendalikan. Insyaallah dengan mengabaikan nafsu negatif kita dan memunculkan nafsu positif kita, maka hidup kta lebih tenang, damai, dan terarah menuju bimbingan dari Allah SWT. Keimanan jiwa dan hati kita pun akan semakin meningkat dan penuh ketaqwaan.

Mudah-mudahan tarbiyah-tarbiyah dari bulan ramadhan ini bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari kita, sampai dengan selesainya ramadhan ini, dan berlangsung terus menerus. Kita sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan dan kejelelakan baik dimata sesama maupun di hadapan-Nya, insyallah dengan menerapkan tarbiyah-tarbiyah tersebut kita akan dijadikan manusia-manusia yang berakhlak baik dan menyenangkan bagi sesama, bagi alam, dan tentunya menyenangkan sebagai makhluknya Allah SWT.

Ibarat ulat yang melakukan puasa kepompong untuk menjadi kupu-kupu cantik dan indah yang menyenangkan bagi semua makhluk yang melihatnya. Wallahu a'lam bishowab.

Monday, 20 June 2016

Mumpung Masih Ada Kesempatan Buat Kita Mengumpulkan Bekal Perjalanan Abadi


Melihat berita dan tayangan televisi tentang musibah banjir dan longsor yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah, minggu, 19 Juni 2016. Begitu memprihatinkan dan menyedihkan melihat mereka menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor. Di kabupaten Kendal dan Kabupaten Purworejo. Menggoreskan kesedihan hati yang berkepanjangan dalam kehidupan di masyarakat dan negara kita. Itupun hanya salah satu saja dari sekian banyaknya bencana alam yang telah terjadi di negara tercinta Indonesia ini.

Kita adalah makhluk manusia yang memiliki banyak kekurangan. Tak ada daya yang patut kita bangga-banggakan di hadapan-Nya. Ketika kita diberikan ujian dan musibah dari yang maha Kuasa, barulah kita menyadari apa perbuatan dan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan dari dulu sampai sekarang. Apakah kesadaran dan keinsyafan kita haruskah menunggu Tuhan yang mencubitnya, bukankah kita telah diberikan akan dan pikiran untuk memikirkan semua kenikmatan dan anugerah-Nya?

Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum:41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Dalam surat tersebut telah jelas bahwa segala musibah dan bencana adalah akibat dari ulah tangan manusia sendiri yang tidak bertanggungjawab. Telah banyak sekali yang tidak bisa kita hitung satu persatu kerusakan-kerusakan alam, akhlak, budaya, norma, yang justru dilakukan oleh manusia sendiri. Begitu banyak kekerasan dan kekejian terhadap alam ini yang dilakukan oleh manusia yang hanya untuk kepentingan sesaat dan nafsu belaka.

Ketika nasi sudah menjadi bubur, itulah perumpamaan ketika kita sudah terlanjur terhadap kerusakan-kerusakan yang telah kita lakukan. Dan hanya meninggalkan penyesalan selama-lamanya. Janganlah menunggu kemarahan alam yang lebih besar lagi. Marilah kita segera bersujud, memperbaiki jiwa dan akhlak kita, memperbaiki diri kita untuk menjadi yang lebih baik. Marilah kita jaga alam kita, tempat kita hidup di bumi ini. Kita lawan oknum-oknum perusak alam kita. Orang-orang yang tidak berdosalah yang akan ikut menjadi korban dari kerusakan-kerusakan alam yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Save my earth.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS asy-Syuura:30).

Bersyukurlah kita yang masih diberikan waktu. Masih diberikan kenikmatan dan kesempatan hidup didunia ini. Kita perbaiki diri akhlak dan tingkah laku kita yang penuh dengan kesombongan dan keiridengkian. Umur yang masih tersisa gunakan selalu untuk berdoa dan beribadah kepada Tuhan untuk mengumpulkan bekal menuju perjalanan yang abadi. Semoga kita selalu diberikan bimbingan dan dijauhkan dari segala musibah dan bencana. 

Friday, 17 June 2016

Begitu Berat Kaki dan Badan Ini Melangkah ke Masjid


Sebuah nasehat untuk muhasabah dan memotivasi diri

Untukmu Anakku
Tahukah kamu nak… perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki adalah perjalanan menunaikan ibadah dan kewajiban ke masjid. Sebab banyak orang kaya yang tidak sanggup melaksanakan dan mengerjakannya. Jangankan yang sehari lima waktu, bahkan yang seminggu sekali pun banyak yang terlupa. Bahkan tidak jarang pula yang hanya seumur hidup pun tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan dengan kepintaran akan untuk menuju ke masjid. Banyak orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu  untuk menemukannya. Walaupun mereka mampu mencari  ilmu hingga ke negeri cina, bahkan Eropa ataupun Amerika, dengan semangat membara dan mudah melangkahkan kakinya ke Jepang, Australia, ataupun Korea. Namun ke Masjid tetap saja perjalanan yang sulit dan tidak mampu mereka tempuh walaupun telah bergelar sarjana atau doktor.

Perjalalan terjauh dan terberat adalah perjalanan dengan semangat membara menuju ke Masjid. Banyak para pemuda kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak-puncak Gunung tertinggi, mereka pun sering mengeluh ketika diajak untuk datang ke Masjid. Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dicap sebagai orang alim, dan sebagainya.

Perjalalan terjauh dan terberat adalah sejatinya perjalanan penuh dengan keikhlasan menuju ke masjid, maka berbahagialah dirimu wahai anakku… Bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki dan badanmu ke Masjid. Karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kakimu, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke Masjid.

Biar aku beri tahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Rabbmu. Perjalanan untuk bermunajat kepada Penciptamu. Perjalanan menuju kemuliaanmu sebagai mahluk yang beribadah kepada Rabbmu. Itulah perjalanan yang diajarkan oleh nabimu, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang sedang tidur dan lupa diri akan Tuhanmu.

Perjalalan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Maka lakukanlah dengan istiqomah mengharap keridhaan walaupun engkau harus merangkak dan tertatih-tatih dalam gelap dan dinginnya subuh demi mengenal dan menemui Rabbmu.

Teruntuk keluargaku, anak cucuku, saudara-saudaraku, dan saudara seimanku. Semoga selalu diberikan kekuatan dan hidayah sebagai pejuang shubuhmu.

Thursday, 16 June 2016

Kajian Ilmu Tidak Harus di Ruang Kuliah atau sekolah


Belajar atau mengkaji ilmu dan pengetahuan tidak harus dilakukan di ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, ruang seminar, atau sekolahan. Di sebuah warung atau kedai kopi pun dapat dilakukan diskusi dan pembelajaran dalam membedah beberapa buku-buku dan kajian-kajian ilmu dan buadaya. Kajian dapat dilakukan sembari minum kopi dan susu rempah yang hangat dengan ditemani cemilan-cemilan jajanan yang nikmat dan lezat. Hidangan pisang goreng dan ubi rebus begitu pula nasi goreng spesial ataupun mie goreng sesuai dengan keinginan kita.

Di sebuah kedai atau warung yang kecil, berkumpul bersama dengan anak-anak muda yang juga mempunyai kegemaran ngopi bersama sembari berdiskusi dan mengasah kreatifitas dalam belajar mendengar dan menulis kreatif. Dengan diskusi yang panjang dan lebar penuh dengan canda dan tawa, seolah menghilangkan beban-beban kehidupan dalam keakraban bersama. Malam pun tak terasa membawa kita dalam kelarutan malam yang semakin dingin dan menusuk tulang mengiringi keashikan diskusi tentang fenomena sosial budaya dan humanistik yang terjadi di sekitar kita.

Semoga aktivitas keilmuan seperti ini yang dilakukan di malam bulan puasa sembari menunggu waktu sahur dapat dihitung oleh Allah sebagai ibadah berdzikir yang lebih dari seribu dzikir karena seribu kata telah terungkap menambah silaturahmi dan rasa syukur pada Allah.

Wednesday, 15 June 2016

Anak Yatim Piatu Bagaikan rumput di pinggir Jalan, Sayangi dan Peliharalah Mereka


Rumput di pinggir jalan, sendirian dalam kepanasan dan kedinginan, tak ada induk yang meneduhi dirinya. Menangis sendirian dalam terpaan angin dan polusi jalan. Kadang terinjak-injak kaki yang bersepatu mengkilat, kadang dicabut oleh tangan-tangan yang memakai gelang dan jam tangan yang mahal. Tak terurus dan terabaikan dalam kesedihan.

Yah.. itulah sedikit gambaran tentang seorang anak yatim piatu. Berpacu dalam kesedihan dan kesenduan dalam menatap masa depan. Masa depan yang mungkin suram bagi dirinya. Kesempatan yang juga mungkin hilang bagi dirinya. Yang juga ingin berjuang meraih keemasan dengan yang lainnya. Namun, tetap percaya pada perkasa Tuhan yang mampu menghapus semua kesempitan. Percayalah pada kekuatan Tuhan untuk urusan masa depanmu itu. Tetaplah tegar penuh senyuman menghadapi rumitnya kehidupan.

Allah SWT berfirman sebanyak 23 kali tentang kemiskinan dan yatim piatu, salah satunya pada surat Al-Baqarah 215: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkah-kan. Jawablah, ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan, hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa saja yang kamu buat, maka sesungguh-nya Allah Maha Mengetahuinya.”

Sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT, memberi nafkah anak yatim piatu adalah salah satu kewajiban bagi kita yang berkecukupan. Kewajiban dan tanggung jawab kita semua dan juga pemerintah dalam memberikan perhatian dan pembelaan agar mereka tetap hidup layak seperti kita, belajar dengan nyaman, dan juga bisa bergembira seperti anak-anak lainnya. Bukan justru merendahkan dan menghina mereka.

Baginda nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan kita semua, beliau sangat mencintai dan menyayangi kepada anak yatim piatu. Salah satu sabda beliau adalah “Aku dan pemeliharaan anak yatim, akan berada di syurga kelak”, sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya. (Hadis riwayat Bukhori). Betapa cintanya beliau kepada anak-anak yatim piatu.

Sebagai seorang muslim, marilah kita mulai membuka mata dan hati kita, yang telah diberikan kenikmatan kelapangan dan berkecukupan. Kita gerakkan hati, tangan, dan kaki kita untuk melangkah dan peduli mengambil tanggung jawab sebagai orang tua bagi mereka anak-anak yatim piatu yang sangat membutuhkan. Sisihkanlah selalu penghasilan untuk kita kumpulkan dan diberikan ke pondok-pondok pesantren yatim piatu. Kunjungan kita, santunan kita kepada mereka adalah harapan yang besar bagi mereka untuk bisa hidup layak seperti manusia lainnya dalam menyongsong masa depan yang gemilang.

Tidak ada balasan bagi orang menyantuni anak yatim piatu selain syurganya Allah SWT. Dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Memuliakan mereka akan memberikan kemuliaan hidupmu dan juga keluargamu. Waallahu a'lam bi showab.

Tuesday, 14 June 2016

Ajarilah Anak Ketrampilan Tambahan Yang Tidak di Dapat dari Sekolah


Mempunyai anak yang pandai dan berprestasi dalam segala bidang tentunya adalah dambaan bagi semua orang tua. Terlebih mempunyai anak yang memiliki ketrampilan dan bakat tertentu yang jarang dikuasai oleh anak-anak lainnya. Kita sebagai orang tua akan sangat bangga mempunyai anak seperti itu. Si anak pun juga merasa senang dan lebih percaya diri dibanding dengan teman-temannya.  

Belum banyak sekolah-sekolah formal yang memberikan materi tambahan tentang bakat dan ketrampilan. Karena memang penyelenggaraan materi di sekolah mengacu dan menggunakan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hanya pelajaran-pelajaran formal saja yang disampaikan di sekolah-sekolah. Sehingga banyak anak-anak didik di sekolah yang minim memiliki bakat dan ketrampilan selain yang didapat dari sekolah. Karena di sisi lain, dengan memiliki bakat dan ketrampilan tertentu merupakan pintu gerbang kesuksesan seorang anak di masa depannya.

Sebagai orang tua, sudah seharusnya mulai mengidentifikasi ketrampilan dan bakat lahiriah sang anak. Bisa dengan melihat apa yang disukainya dan apa yang bisa dikuasainya. Ataupun bisa dengan menumbuhkan ketrampilan dan bakat lainnya yang mungkin belum nampak pada dirinya melalui pelatihan atau kursus tertentu. Sesuai dengan keinginan dan kemauan dari sang anak. Dan juga keahlian lainnya yang belum bisa dilakukan oleh sang anak.

Mulailah dengan memunculkan bakat dan ketrampilan sang anak dengan mengajari sendiri oleh orang tuanya. Tentunya sesuai dengan skill yang dimiliki oleh orang tuanya. Nah.. disinilah dibutuhkan orang tua yang memiliki seribu keahlian. Apabila orang tua belum punya keahlian-keahlian tersebut, maka harus belajar lebih luas untuk memiliki keahlian-keahlian tersebut. Kita sebagai orang tua harus rela melakukan apapun untuk bisa membimbing dan mengajari sendiri anak-anak kita dengan ketrampilan tambahan. Sebagai contoh, anak harus bisa renang, maka kita sendiri yang mengajarinya dalam belajar berenang sampai bisa dan mahir. Begitu juga dengan ketrampilan-ketrampilan lainnya.

Orang tua sendiri perlu menunjukkan kemampuan dalam melakukan ketrampilan yang akan diajarkan kepada si anak. Dengan orang tua sendiri yang mengajari si anak akan lebih membawa percepatan psikis dan penguasaan si anak. Dan si anak pun akan semakin semangat dan senang dalam belajar menguasai ketrampilan-ketrampilan tersebut. Banyak ketrampilan tambahan yang harus dikuasai oleh sang anak, sebagai bekal tambahan di masa depan nantinya. Diantaranya adalah keahlian berenang, keahlian dalam bidang olahraga, bidang keagamaan, bidang musik, dan bidang-bidang lainnya. Namun fokuskanlah pada salah satu ketrampilan dan bakat yang ditonjolkan oleh sang anak.

Penguasaan ketrampilan dan bakat tertentu adalah salah satu kunci pintu keberhasilan dan kesuksesan di masa depan. 

Guruku Tersayang: Kami Menyayangimu


Mendengar makin banyaknya kasus yang terjadi pada guru akhir-akhir ini, membuat saya prihatin dan miris terhadap degradasi moral yang makin merosot. Seorang guru yang tulus berjuang dalam mendidik siswa-siswanya yang diamanatkan oleh orang tuanya, namun disisi lain justru dilecehkan oleh oknum orang tua siswa yang dangkal pengetahuan, moral, dan agamanya.

Bagi saya, guruku adalah seperti pelita yang memberikan pancaran cahaya ilmunya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari kebodohanku menjadi kepintaranku. Merekalah guru yang mau menegur anak didiknya ketika salah dan keliru, membimbing dan mengajari ketika anak didiknya belum bisa untuk menjadi bisa.

Sangat keji dan keliru sekali apabila ada oknum orang tua yang justru mempidanakan seorang guru yang menegur dan memperingatkan anaknya yang salah. Sangat biadab sekali oknum orang tua yang justru melecehkan guru dari anaknya yang berbuat salah  dan keliru. Teguran guru, cubitan guru yang tidak sakit, tamparan guru yang tidak sakit dimaksudkan semata-mata untuk memperbaiki dan mendidik moral dan tingkah laku anak yang keliru dan salah. Bukankah begitu mulia maksud dari guru tersebut, karena dia sayang sama anak-anak didiknya, makanya dia ingin anak didiknya menjadi orang-orang yang baik.

Dengan mendengar lagu ini, semoga lebih mengingatkan kita dan tersentuh akan jasa-jasa guru kita:

Pagiku Cerahku
Matahari bersinar
kugendong tas merahku
di pundak

Selamat pagi semua
kunantikan dirimu
di depan kelasmu
menantikan kami

Guruku Tersayang
Guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku
Kadang buatmu marah
Namun segala ma'af
Kau berikan

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bijak terhadap para guru yang telah kita beri amanah untuk turut serta mendidik anak-anak kita untuk menjadi orang yang baik dan berkualitas moral yang tinggi.

Orang yang memuliakan guru dari anak-anakmu, akan menjadikan kemuliaan dirimu dan keluargamu. Insyaallah..

Monday, 13 June 2016

Puasa Adalah Salah Satu Ibadah Yang Paling Disukai Allah SWT


Sebagai seorang muslim kita dituntut terus belajar untuk mengetahui tentang amal dan ibadah yang telah kita lakukan dalam mencapai keridhoannya dengan benar dan tepat sesuai dengan ilmunya. Salah satunya adalah ibadah puasa ramadahan. Alhamdulillah kita telah menjalani puasa ramadhan ini sampai mendakati tengah bulan ramadahan. Semoga kita selalu diberikan kekuatan dan bimbingan dari Allah SWT dalam menjalani puasai ini sampai selesai ramadhan nanti.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”.

Ayat tersebut adalah dasar hukum kewajiban seorang mukmin untuk menjalankan ibadah puasa ramadhan baik laki-laki, perempuan, orang muda maupun orang tua, orang yang sakit ataupun orang yang sedang berhalangan. Namun Allah mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia, maka diberikanlah kemudahan-kemudahan dalam melakukan ibadah puasa.

Dijelaskan pada surat al-baqarah 184, bahwa orang yang sakit atau orang yang sedang dalam perjalanan, dan dia tidak bisa berpuasa maka wajib baginya untuk mengganti puasa yang ditinggalkannya di hari lain sebanyak jumlah puasa yang telah ditinggalkannya. Dan bagi orang-orang yang memang berat tidak dapat melaksanakan puasa ramadhan seperti orang yang sedang sakit berat, atau sebab tertentu, maka dia wajib mengganti puasa yang ditinggalkannya dengan membayar fidyah atau denda. Yaitu memberi makan orang miskin sebanyak satu mud (kurang lebih 6 ons) makanan pokok.

Disisi lain, Puasa ramadhan adalah salah satu ibadah yang disukai oleh Allah SWT.  Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh HR Bukhori dan Muslim, bahwa Rasulallah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Semua amalan manusia adalah untuknya kecuali Puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya’..”.

Pada hakikatnya bahwa semua amal ibadah yang kita lakukan adalah kembali manfaatnya kepada diri kita, seperti kita melakukan shalat, kita akan terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar, Dzikir kita akan membuat hati kita lebih tenang dan terarah. Dan sebagainya. Namun sesuai hadis di atas menegaskan bahwa diantara banyak ibadah-ibadah yang kita lakukan tersebut, ibadah puasalah yang secara khusus menjadi urusan langsung dari Allah SWT. Baik puasa wajib ramadhan maupun puasa-puasa sunah lainnya. Dengan mengetahui puasa adalah urusan langsung Allah maka tetaplah semangat berpuasa ramadhan dan puasa-puasa sunah lainnya di bulan lain selain ramadhan.

Semoga kita selalu termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat rahmat dan bimbingan dari Allah SWT. Aamiin.

Friday, 10 June 2016

Muhasabah Berkurangnya Umur Kita


Setiap jatuh tempo tanggal kelahiran, saya gembira namun sedih, kawan-kawanku bergembira mengucapkan selamat milad dengan canda tawa mereka, menagih dan menunggu angpao atau traktiran makan-makannya begitu juga berpesta-pesta. Karena memang perkembangan budaya yang terus terdegradasi ini memaklumkan orang-orang bersenang-senang ketika ulang tahunnya. Sebuah budaya yang telah lahir akibat gaya hidup masyarakat yang berlebih-lebihan daripada tuntunan perilaku dan moral orang-orang dahulu.

Saya bergembira karena sampai saat ini masih diberikan umur yang panjang, kesehatan yang utuh, dan kebahagiaan dalam keluarga, karir, dan juga sahabat. Anugerah yang besar karena masih diberikan nafas hidup yang panjang untuk melakukan aktifitas-aktifitas dalam kebaikan dan keridhoannya. Sebagaimana hadist nabi: “Orang yang paling panjang umurnya dan baik amalannya” (Hadis Sahih Riwayat At Tirmidzi, Ahmad).

Namun disisi lain saya juga sedih, kontrak umurku juga semakin berkurang. Setiap detik, menit, bahkan jam yang dilalui semakin berkurang saja umur ini. Memperkecil peluang dalam kontrak umur yang panjang menjadi berkurang. Tubuh yang perkasa inipun sudah mulai renta. Ingatan yang tajam sudah mulai pudar. Kelincahan gerak pun sudah mulai layu. Dan yang dulu kelihatan muda pun sekarang sudah mulai tua.

Kesedihanku pun lebih besar lagi ketika mengingat-ingat amal sholeh perbuatanku. Apa yang sudah telah kulakukan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Mengapa juga masih stagnan tanpa ada perubahan. Mengapa tidak ada peningkatan dari waktu-waktu sebelumnya. Tanpa disadari dan terus terlena. Bahkan ada sebuah ungkapan yang populer yaitu Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat”.

Kemarin adalah pelajaran, hari ini adalah perjuangan, dan hari esok adalah harapan. Dengan umur yang masih tersisa ini, marilah jadikan semua kejadian kemarin sebagai bahan muhasabah diri dan pelajaran bagi kita untuk melangkah menjadi lebih baik. Semangat dan tawadhu-lah untuk menjalani hari ini dalam mencapai keridhaan-Nya. Dan teruslah berdoa dan berusaha sungguh-sungguh akan harapan yang lebih cemerlang di hari esok.

Hanya dengan mengisi sisa umur yang masih diberikan untuk kita dengan kebaikan, keimanan, dan ketaqwaan. Hidup ini akan menjadi lebih berarti bagikan kita berjalan di padang pasir dengan membawa bekal makanan dan minuman yang lebih dari cukup.

Selalu dan teruslah berdoa: “Ya Allah, panjangkan umur kami, sehatkan badan kami, terangi hati kami, tetapkan iman kami, baikkan amalan kami, luaskan rezeki kami, dekatkan kami pada kebaikan, dan jauhkan kami dari kejahatan, kabulkan segala kebutuhan kami, baik dalam agama, dunia, maupun akhirat. Sesungguhnya Kau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Semoga kita semua selalu dalam bimbingan dan keberkahan. 

Thursday, 9 June 2016

Janganlah Menjadi Manusia Yang Merugi


Hidup di jaman modern sekarang ini, dengan perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesatnya, secara evolusi berdampak terhadap pola perilaku manusia. Dengan mudahnya akses dan komunikasi manusia dalam kehidupan sehari-hari cenderung membentuk manusia yang super sibuk dengan aktifitas-aktifitas keduniawian. Baik aktifitas dalam pekerjaan maupun aktifitas sosial lainnya.

Seiring kesibukan seseorang yang super padatnya ini menciptakan ke dalam dirinya bahwa waktu baginya adalah sangat berharga sekali. Kehilangan waktu setiap detik dan menit akan sangat berpengaruh sekali terhadap aktifitas kehidupannya. Namun sebagai hamba yang diciptakan dengan akal pikiran, maka pergunakan waktu-waktu kita dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dunia dan juga untuk kepentingan akhirat.

Dalam sehari kita telah dianugerahi waktu selama 24 jam, siang dan malam, pagi dan sore. Waktu yang kita lewati tidak akan pernah kembali lagi, setiap detik, setiap menit, setiap jam, yang akan menjadi masa lampau. Sebagai manusia yang bijak dan berilmu, marilah mulai dari sekarang selalu kita pergunakan waktu-waktu kita dengan kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT. Kebahagiaan di akhirat jauh lebih utama daripada kebahagiaan kita di dunia. Namun bukan berarti kita melupakan dan menyepelekan kebahagiaan di dunia. Keduanya harus seimbang sesuai dengan waktu dan kodrat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita.

Allah berfirman dalam surat Al-Ashr:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Dalam surat diatas disebutkan bahwa orang-orang yang merugi adalah mereka yang menyia-nyiakan waktu daripada keimanannya, orang-orang yang tidak mengerjakan amal shaleh, orang yang tidak suka nasehat dan menasehati dalam kebaikan dan kebenaran maupun dalam kesabaran. Mari kita selalu perbaiki waktu-waktu yang kita jalani agar kita bisa memperoleh kebahagiaan di dunia terlebih lagi kebahagiaan di akhirat nanti. Wallahu'alam Bishowab.

Semoga kita selalu dalam lindungan dan bimbingan dari Allah SWT. Aamiin ...

Wednesday, 8 June 2016

Menumbuhkan Kedisiplinan Melalui Jadwal Harian Anak


Nak, belajar dulu, besok kan mau ujian!. “Bentar ma, filmnya masih bagus, bentar aja ya ma..” jawab sang anak. Itulah sedikit kutipan percakapan yang mungkin sebagian besar dialami oleh orang tua. Dan juga mungkin banyak orang tua yang capek dan kesal kepada anaknya untuk selalu meminta anak-anaknya agar belajar, terlebih ketika mendekati masa-masa ujian sekolah.

Secara alami, masa seorang anak adalah masa-masa belajar dalam bermain. Kita tidak bisa memaksa secara keras kepada anak untuk tidak bermain, karena memang naluri anak adalah naluri bermain. Namun sebagai orang tua yang mengerti tingkah laku anak, bisa melakukan manajemen waktu anak dalam belajar dan bermain. Peran orang tualah yang sangat penting untuk membantu sang anak agar bisa menumbuhkan sendiri kegiatan aktifitas bermain dan belajarnya. Biarlah anak sendiri yang akan menentukan aktifitas belajar dan bermainnya. Salah satunya adalah mengajak sang anak untuk membuat sendiri jadwal hariannya dengan didampingi ayah atau ibunya.

Berikanlah penjelasan setiap item dalam jadwal kegiatan sehari-hari sang anak. Mulai dari anak bangun tidur sampai seharian mendekati waktu tidur. Baik jadwal untuk belajar, bermain, maupun berekreasi bersama keluarga. Dengan jadwal yang dibuat sendiri oleh sang anak, secara psikis sang anak akan mengutamakan tanggung jawabnya terhadap jadwal yang dibuatnya sendiri. Peran orang tua pun akan semakin terbantu ketika sang anak tidak melaksanakan aktifitasnya sesuai jadwal. Dengan demikian secara tidak langsung orang tua telah melatih kedisiplinan dan tanggung jawab kepada anaknya.  

Sekedar referensi sebagai contoh jadwal sehari sang anak adalah sebagai berikut:
Pukul 04.30 – 05.30    : Bangun pagi, shalat shubuh, dan mengaji bersama keluarga
Pukul 05.30 – 06.00    : Mandi
Pukul 06.00 – 06.30    : Sarapan bersama keluarga
Pukul 06.30 – 07.00    : Berangkat dan belajar di sekolah
Pukul 14.00 – 15.45    : Pulang sekolah, Istirahat, dan mandi
Pukul 15.45 – 17.00    : Berangkat kursus atau TPQ atau ekstra lainnya
Pukul 17.00 -  18.00   : Istirahat, Nonton televisi, bermain, atau belajar
Pukul 18.00 – 19.00    : Shalat mahgrib, mengaji, dan makan bersama keluarga
Pukul 19.00 – 21.00    : Shalat isya dan belajar
Pukul 21.00                : Gosok gigi dan bersih2 diri dan tidur..

Itulah sekedar contoh jadwal anak-anak yang bisa disesuaikan dengan hari dan aktifitas dari sang anak. Dukunglah setiap aktifitas anak agar sesuai dengan jadwal yang telah dibuatnya. Jadilah pendengar yang baik terhadap kesulitan dan hambatan dalam aktifitas hariannya.

Dengan jadwal yang kelihatan sederhana ini, sebagai orang tua secara tidak langsung telah membangun kreatifitas dan bermain anak untuk disiplin melalui komitmen dari anaknya sendiri. Melatih anak untuk bertanggungjawab dan bersunggung-sungguh dalam karya yang dihasilkannya. Memberikan bimbingan serta arahan yang tepat agar ia menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia sebagaimana yang kita inginkan kelak saat mereka telah dewasa.

Wednesday, 1 June 2016

Tidak Perlu Risau bila IQ Anak Rendah


Sebagian besar orang tua pasti sangat bangga dan bahagia apabila anaknya cerdas dan pandai. Selalu mendapat rangking di kelas, selalu mendapatkan juara pada perlombaan yang diikutinya. Namun bagaimana apabila anak Anda tidak pernah mendapatkan rangking di sekolahnya. Tidak pernah mendapatkan juara dari perlombaan yang diikutinya. Mungkinkah ada rasa kekecewaan tersendiri terhadap capaian dari anak yang tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya?

Sebagai orang tua, tidaklah perlu kecewa atau khawatir terhadap tingkat capaian dari sang anak. Tidak semua anak bisa memberikan kelebihan dan prestasi yang diinginkan oleh orang tuanya. Namun setiap anak yang dilahirkan telah mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin: 4).

Perlu kita pahami bersama bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan membawa 3 takdir, yaitu: 1) Manusia yang yang diciptakan ke dunia akan membawa takdir rezekinya; 2) Manusia yang diciptakan ke dunia akan membawa takdir siapa jodohnya; 3) dan Manusia yang diciptakan ke dunia akan membawa takdir kematiannya. Ketiga takdir manusia tersebut sudah ditetapkan dari Allah SWT sebelum manusia tersebut diciptakan ke dunia. Kematian seseorang tidak akan menghampirinya sebelum rezeki orang tersebut sempurna sesuai yang telah ditakdirkan.

Dalam kehidupan nyata tidak sedikit orang-orang sukses yang dulunya memiliki IQ yang rendah, dan tidak banyak pula orang yang belum sukses ternyata dulunya memiliki IQ yang tinggi. Demikian juga, IQ anak yang rendah tidak juga menjamin keberhasilan seorang anak di masa depannya, demikian juga sebaliknya. Jadi, sebagai orang tua tidak perlu risau apabila anak-anaknya belum bisa berprestasi sesuai dengan keinginan orang tuanya. Karena anak sudah membawa takdir dan kelebihan tersendiri sejak dilahirkan ke dunia.

Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua? Yang harus dilakukan oleh orang tua adalah berusaha sebaik mungkin dalam mendidik dan menyiapkan anak-anaknya agar memiliki karakter dan akhlak yang baik. Mewujudkan untuk menjadi anak yang sholeh dan shalikha. Melalui pendidikan dalam keluarga dan pendidikan formal maupun informal. Karena manusia yang memiliki akhlakul karimah dan berkarakter baik adalah dambaan semua orang di dunia, yang tidak memandang suku, ras, ataupun agamanya. Selain itu, selalu mendoakan anak-anak kita secara terus menerus, semoga selalu diberikan bimbingan dan hidayah dari Allah SWT. Karena dengan melibatkan peranan dari Allah SWT, sesuatu yang tidak mungkin bisa berubah menjadi sesuatu yang mungkin.

Doa yang terus menerus dari orang tua kepada anaknya sangat signifikan berdampak terhadap perkembangan dan masa depan anak. Seperti sabda nabi Muhammad SAW: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065).

Semoga dengan melalui doa yang terus menerus dan penuh keikhlasan dari orang tua, insyaallah akan membawa dampak bagi anak-anak kita mampu memiliki prestasi dan kecerdasan seperti yang inginkan oleh orang tuanya. Jadi, tidak perlu khawatir terhadap rendahnya capaian IQ anak, namun khawatirlah terhadap karakter dan akhlak dari anak yang kurang baik. Semoga bermanfaat.